AYAH DAN CITA-CITANYA

Ayah saya seorang petani, aku tidak malu mengakuinya karena dari hasil taninya aku berada di pencapaian sekarang. Sebelum menetap di Malangke (Luwu Utara), beliau pernah ke Kalimantan kerja buruh harian, Toli-toli sebagai pemanen merica dan membuka lahan trasnmigrasi di Larompong (Luwu Selatan). Begitu sejarah singkat yang sering diceritakan beliau. Begitu banyak pengalam pahit yang pernah dilaluinya, beliau tumbuh dewasa tanpa ibu (nenekku meninggal semasa ayah masih umur 3 tahun).

foto0961
foto ayah (21/6/2015)

Masa sekolah yang dilaluinya sangat berat, beliau hanya tinggal berdua dengan kakekku, karena kedua kakaknya sudah berkeluarga. Subuh ayahku harus bangun membantu kakek memasak, mereka sarapan bersama lalu masing-masing ke tujuannya, Ayah pergi sekolah dan kakek pergi mengambil tuak hasil tadahan semalam dipohon aren untuk dibuat gula. Sepulang sekolah ayah hanya menemui rumah kosong, terkadang tahi ayam di teras rumah, atau hasil acak-acakan monyet yang datang waktu rumah kosong. Berbeda dengan anak lain yang pulang sekolah makanan sudah siap santap di atas meja, Ayah harus masak dulu, karena sisa sarapan dibungkus kakek ke bola assaring(tempat mengolah tuak menjadi Gula Jawa) atau sawah.
Sebagian dari kita dimarahi ketika tidak tidur siang di saat seumuran ayah. Tapi ayah harus berangkat ke hutan mencari buah kemiri, atau ke sawah membantu kakek, agar asap di dapur tetap mengepul. Hal yang paling menyedihkan adalah ayah hanya punya satu seragam sekolah sampai tamat SD, lalu kenapa harus meminta seragam baru setiap kenaikan kelas. Kadang celana merah ayah sobek, tapi hanya dijahit sendiri, bajunya pun sudah berubah warna jadi abu-abu kecoklatan dan lehernya sudah dibalik kemudian dijahit ulang karena bagian luaran lehernya sudah rusak. Dengan keadaan seperti itu ayah tidak pernah meminta seragam baru ke kakek sampai tamat SD.
Sebelum tamat SD ayah membeli koper kotak (jaman dulu), tidak ada niat melanjutkan pendidikan, hanya merantau, agar kehidupan ekon
omi lebih baik.

Bersambung….

Ayah dan Ayam (part 1)

Menikmati (susah menemukan kata ganti -membuang waktu-) masa transisi antara sarjana dan mendapat kerja, ku habiskan waktuku bersama ayah. Yang dikerja Ayah pun aku ikut kerja, bertani adalah aktivitas keseharianku. Pestisida, herbisida, hama, rumput adalah teman hidupku disini. Disela-sela istirahatku hanya bisa scrool beberapa media sosial di bawah pohon teduh sambil menikmati kopi yang dibungkuskan ibu tadi pagi.

Suatu hari sambil menunggu ibu menyiapkan santapan siang, Aku dan Ayah memberi makan Ayam. Ku hamburkan biji jagung tak karuan. Kiri, kanan, depan, belakang, terkadang aku mengayungkan tangan tanpa jagung yang kuhamburkan sambil tertawa melihat ayam yang berebut jagung tersebut.

Tiba-tiba Ayah mengatakan:

Ita sai na’ yaro manue manre, mega rupanna. Cicemmi idi lapung punna manu mangamporeng barelle,  Engka maega na anre, engka cedde mi tergantung pole ki carana ma pitto, yako matengnge i cedde tomi naruntu, narekko maceppa i maega to naruntu, engka to degaga siseng na runtu pa’ matengnge i pole yareggi mitau i ki manu maloppoe na alena.

Makku to ro atuong na Tau Linoe, yaro Puang e cicemmi nassamporeng(napallebbang) pappedallena ri lino e. Idi’ mani rupa tau e makkareso, ko matengnge ki cedde mi, narekko maceppakki maega iruntu, engka to de’ siseng gaga yanaritu tau makuttu e yareggi tau metaue mappammula jamang.

arti:

Lihatlah ayam itu makan nak, banyak macamnya. Kita sekali menghamburkan biji jagung, tapi beberapa ayam yang makannya hanya sedikit, pun juga ada yang makannya banyak. Bahkan ada uang tidak dapat sama sekali karena lambat datang atau sudah datang tapi ciut karena ayam besar yang merebutnya.

Begitu pun kehidupan manusia nak, Tuhan hanya sekali menurunkan rejekinya untuk kita (hambanya). Tinggal kita mau menjemput rejeki itu, mau ambil banyak atau sedikit tergantung cara kerja kita. Bahkan ada orang yang tidak mengambil apa-apa dari melimpahnya rejeki karena bermalas-malasan atau takut mengambil resiko untuk memulai.

Mungkin nasehat ini terlihat sepeleh, tapi hingga hari ini aku masih mengingatnya. Ayah yang begitu peduli terhadap masa depanku tak segan-segan menasehatiku dan memberiku wejangan kapan dan dimana pun dia punya waktu. Terima kasih Ayah hebatku. Doakan anakmu agar selalu mengingat nasehatmu agar ku sukses kelak. Amin…

Tulisan ini kudedikasikan

Untukmu Ayah Sedunia

Moral:

  1. Maksimal dalam bekerja
  2. Berani mengambil resiko
  3. Jemput sukses mu
  4. Berbaik prasangka terhadap Tuhan yang maja kaya

Like, share dan subscrabe

Jangan lupa tinggalkan komentar yah

Ayah hebat

Sumber : rini risnawati


AYAH…

Ayah memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya…

Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketika lahir untuk menenangkan jiwamu….

Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu…

Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu…

Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu.. 

ketika kau sudah bisa membangun sendiri hidupmu…

Ayahmu tidak pernah kau lihat menangis, bukan karena hatinya keras, tapi agar kau tetap percaya, dia kuat untuk kau bisa bergantung dilengannya…

Sayangi dan hormati ayahmu.. 

memang surga ada ditelapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya…

Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu…

.

Semoga Orang Tua Kita Panjang Umur..

AYAH HEBAT

Sumber : rini risnawati

AYAH…

Ayah memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya…

Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketika lahir untuk menenangkan jiwamu….

Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu…

Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu…

Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu.. 

ketika kau sudah bisa membangun sendiri hidupmu…

Ayahmu tidak pernah kau lihat menangis, bukan karena hatinya keras, tapi agar kau tetap percaya, dia kuat untuk kau bisa bergantung dilengannya…

Sayangi dan hormati ayahmu.. 

memang surga ada ditelapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya…

Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu…

.

Semoga Orang Tua Kita Panjang Umur..

SPD (Sarjana Pulang Desa)

Tak terasa, empat tahun sudah mengenyam dunia pendidikan di kampus Universitas Negeri Makassar, Lulus dengan predikat sangat memuaskan. Setelah menyelesaikan beberapa administrasi kampus, ku sempatkan diri untuk bertolak ke kampung halaman (Malangke, 40 km sebelah selatan kota Masamba ). Sengaja aku menggunakan jasa transportasi PIPPOS karena perwakilannya sudah ada di kampung Halaman, perjalanan ditempuh satu malam dari kota Makassar. sepanjang perjalanan, aku memikirkan tentang masa depanku, beberapa konsep kususun di dalam otakku sebagai bahan konsultasi ke orang tua nantinya. kini aku baru sadari bahwa euforia wisuda hanya sebatas tiga hari, setelah itu status PENGANGGURAN SARJANA MUDA. Secara garis besar ada dua konsepku, lanjut S2 atau ikut SM3T. malam semakin larut, beberapa penumpang sudah terlelap, sebagian masih bercengkrama membahas tetek bengek kehidupannya, sementara aku hanya mendengar musik nostalgia dari sound mobil yang tepat di atas ubun-ubunku

“disini di jantung kota kulabuhkan harapan demi masa depan kau dan aku, disini walau banyak rintangan ku hadapi, biarkan ku tetap tegar melangkah”

dan beberapa lagu silih berganti hingga membuatku terlelap tidur.

sinar matahari yang menampakkan diri, perlahan menghapus embun di kaca mobil  yang ku tumpangi. ku coba telpon Ayah, beliau sudah ada diperwakilan menungguku, dari perwakilan kami masih harus menempuh jalan 3 km dengan motor untuk sampai ke rumah. sudah bisa ku bayangkan, sambutan ibuku di rumah yang khas dengan kue barongkonya, adik dan kemanakan yang langsung membongkar tas berharap ada ole-ole di dalamnya. Mobil telah sampai diperwakilan, Ayah dengan senyum Khasnya menyapaku lewat kaca mobil, aku bergegas turun dengan tas ransal tentenganku, ku salami tangannya, keriput, kasar, beberapa bekas duri, bukti bisu bahwa beliau adalah pahlawan keluarga kami.

Kutawarkan diri untuk membawa motor, dan Ayah iya  saja. Sepanjang perjalanan Ayah bercerita tentang Empangnya, kebun, dan beberapa PR untuk saya katanya (begini lah anak petani). sesekali dia menunjuk tanaman Jagung di seberang jalan dan membandingkan kebun jagung beliau. sesampai di rumah, ibu menyambutku di depan pintu. sedang adik dan kemanakan ku sudah berangkat ke sekolah.ku salami dan ku peluk ibuku, sedikit rasa rindu ini terobati, seperti biasa ibu langsung berkata “ada barongko di kulkas itu”.

Sarjana Pulang Desa (SPD), kadang menjadi momok, beberapa sarjana galau karenanya, namun 1 pesan penting darinya “terkadang kita harus mundur beberapa langkah, untuk mendapatkan lompatan yang maksimal”. Setelah sarjana, pulang kampung lah nak, terkadang kita butuh pelukan ibu, wejangan Ayah, dan kicauan tetangga, agar semangatmu kembali lagi mengejar cita-cita dan arahmu lebih jelas, tapi jangan lah berlama-lama karena sejatinya pemuda adalah yang mengatakan -ini adalah  aku,bukan ini adalah ayahku- “

nb:

  • coment
  • like
  • share yah

 

Continue reading “SPD (Sarjana Pulang Desa)”

AYAH

Aku sengaja membuat blog pribadi ini, untuk mrekam kebersamaanku bersama ayah. Nama saya kaharman, satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga kami. kakak saya (Jusmawati, 28 tahun) sudah berkeluarga sejak tamat MTS DDI Mangkoso, sedangkan adik (Hasnawati, 13 tahun) sementara menempuh pendidikan di PONPES DDI MANGKOSO.

kahar_1069
ayah dan kopinya

Sementara saya telah menyelesaikan kuliah di salah satu kampus Negeri di Makassar. bagiku AYAH adalah segalanya bagiku: Orang Tua, Imam, Motivator, tempat curhat, dan sebagainya. bukan berarti ayah tidak pernah marah, membentak, mengatai.  Tapi aku sadar, semuanya yang dilakukan adalah niatan agar aku menjadi anak yang baik.

dalam blog ini, kucoba untuk mengingat kembali dongeng darinya, wejangan, pepatah, hingga kisah yang kami alami berdua. bagi teman-teman yang ingin kisah dan tulisannya dimuat silahkan kirim ke kaharmanibo2gmail.com. Harapanku, semoga menjadi inspirasi untuk para pembaca, mohon komentar dan sarannya di kolom komentar untuk mengembangkan blog ini. dan jika berkenan jangan lupa di share.